AhlussunnahWal Jama'ah agama Islam yang diperintahkan oleh Allah untuk diyakini serta datang dari-Nya". Mereka juga sering membaca Al-qurâan dan mentafwidlkan maknanya pada Allah tanpa meresapi arti yang telah dijelaskan oleh Rasulullah dan menegaskan bahwa itulah arti yang dikehendaki Allah [4].
SejarahAhlussunnah wal Jama'ah. Aswaja itu adalah Islam itu sendiri, konsistensi ber-Islam ala Rasulullah dan para sahabatnya. Sehingga tidak bisa dikatakan bahwa Aswaja itu adalah paham baru sebagai respons atas tantangan aliran lain. Sebelum era Imam Abul Hasan al Asy'ari (w. 324 H) pun telah ada Aswaja dengan para imamnya, dengan pengertian
Istilahini untuk pertama kalinya di pakai pada masa pemerintahan khalifah Abu Ja'far al-Manshur (137-159H./754-775M) dan khalifah Harun Al-Rasyid (170-194H/785-809M), keduanya dari dinasti Abbasiyah (750-1258). Istilah ahlussunnah waljamaah semakin tampak ke permukaan pada zaman pemerintahan khalifah al-Ma'mun (198-218H/813-833M). Pages: 1 2 Prev
Fast Money. Sejarah Perkembangan Ahlus Sunnah wal Jamaâah Oleh Mukh. Sumaryanto Pendahuluan Di zaman Nabi Muhammad SAW. masih hidup dan memimpin umat manusia, islam masih satu kesatuan dalam naungan kepemimpinan beliau. Kesatuan tersebut terlihat baik dari segi agama, politik maupun sektor sosial masyarakat. Semuanya telah diatur dan dipimpin oleh beliau, setiap kali ada permasalahan yang terjadi para sahabat, maupun yang lainnya pasti akan datang kepada beliau untuk bertanya, sehingga tak akan mungkin ada suatu perbedaan yang akan terjadi baik pada sahabat maupun umat islam keseluruhan. Sepeninggal Nabi Muhammad SAW berbagai macam aliran-aliran keagamaan mulai berkembang, pelan tapi pasti dan bisa dirasakan . Itulah kenyataan dari pernyataan yang pernah disampaikan oleh beliau Rasulullah SAW. Beliau berkata bahwa umat islam akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan dan yang selamat hanya satu, Ahlu sunnah wal-Jamaâah atau ASWAJA begitulah aliran ini disebut. Itulah yang terjadi, sejarah mengatakan berbagai macam aliran sudah terbentuk dan berjalan di muka bumi ini, aliran-aliran tersebut telah tumbuh berkembang di tengah-tengah masyarakat, termasuk juga ahlu sunnah wal jamaâah pun demikian. Untuk mengetahui bagaimana proses perkembangan ASWAJA, pemakalah akan sedikit banyak menyampaikan hal tersebut. Rumusan Masalah 1. Apakah yang dimaksud dengan ASWAJA? 2. Bagaimanakah sejarah perkembangan ASWAJA ? Pembahasan 1. Arti Ahlusunnah wal-Jamaâah Ahlusunnah wal- Jamaâah terdiri dari tiga kata, ahl, sunnah, dan jamaâah. Ahlu bermakna golongan. Sedang as-sunnah, menurut Imam as-Syatibi, ialah segala sesuatu yang dinukil dari Nabi SAW. Secara khusus dan tidak terdapat dalam al-Qurâan, tapi dinyatakan oleh Nabi. Jadi, beliau sekaligus merupakan penjelasan isi al-Qurâan. Sunnah dalam pengertian ini lawan dari bidâah. Kemudian al-Jamaâah. adalah golongan yang mengikuti Rasulullah SAW dan para sahabanya[1] Ahlu Sunnah adalah orang-orang yang mengikuti sunnah dan berpegang teguh dengannya dalam seluruh perkara yang Rasulullah berada di atasnya dan juga para sahabatnya.[2] Islam telah mengisyaratkan adanya firqoh-firqoh yang akan terjaadi dalam kehidupan umat manusia, termasuk firqoh dalam islam, berikut adalah hadits yang menerangkan tentang hal tersebut, Artinya Dari Sufyan Al-Tsauri Nabi SAW. Bersabda â Sesungguhnya Bani Israel terpecah menjadi tujuh puluh dua aliran, dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga aliran. Semua aliran itu akan masuk neraka, kecuali satu. Para sahabat bertanya siapakah satu aliran itu ya Rasulallah ? mereka itu adalah aliran yang mengikuti apa yang aku lakukan dan para sahabatku Ahlu Sunnah wal jamaâah . HR. Tirmidzi Dalam firqoh-firqoh tesebut semua akan celaka kecuali golongan yang berkomitmen melakukan segala amaliyah Nabi dan para sahabatnya. Lafadz â â disebut dengan ahlu sunnah wal-jamaâah, yang berarti penganaut sunnah nabi Muhammad SAW dan jamaâah Sahabat-sahabatnya.[3] Ketika Rasulullah SAW wafat, maka terjadilah kesalahpahaman antara golongan Muhajirin dan anshar, siapa yang selanjutnya menjadi pemimpin kaum muslimin. Para sahabat melihat hal ini akan menimbulkan perselisihan antara kaum Muhajirin dan anshar. Setelah masing-masing mengajukan delegasi untuk menentukan siapa khalifah pengganti Rasulullah. Akhirnya disepakati oleh kaum muslimin untuk mengangkat Abu bakar sebagai khalifah.[4] Pada masa itu mulai terlihat adanya perpecahan antar umat islam yang berlanjut hingga masa kepemimpinan khulafaâ berakhir yang kemudian dilanjutkan oleh para kholifah dari berbagai dinasti dan sampailah pada dinasti dimana imam-imam madzhab aliran-aliran muncul. Menurut sebagian sejarawan, istilah Ahlussunnah wal-Jamaâah itu digunakan sejak abad III H. mereka menyebutkan satu bukti yang ditemukan pada lembaran surat Al-Maâmun khalifah dinasti Abbasiyah ke-6. Di sana, tercantum kata-kata, âwa nassaba nafsahum ilaa as-Sunnah mereka menisbatkan diri pada sunnah. Abad ini adalah periode tabiâin dan para imam-imam mujtahid, di kala pemikiran-pemikiran bidâah sudah mulai menjalar terutama bidâah dari kaum muâtazilah. Sejarah mengatakan bahwa khalifah al-Maâmun merupakan khalifah yang mengambil muâtazilah sebagai akidah resmi negara kemudian memaksakan doktrin-doktrin Muâtazilah kepada kaum muslimin.[5] Munculnya istilah Ahlusunnah wal-Jamaah merupakan perwujudan dari sabda Rasulullah SAW âSelalu segolongan dari umatku mendapatkan pertolonganâ Ibnu Majah. Untuk orang-orang inilah, istilah ahlusunnah wal-jamaâah ditujukan. Dengan kata lain, ahlu sunnah wal-jamaâah adalah orang-orang yang berpegang teguh sunnah Rasulullah SAW dan ajaran para sahabat, baik dalam masalah akidah, ibadah, maupun etika batiniah tasawuf.[6] Aliran Ahlu sunnah wal Jamaâah tak lepas dari para pendirinya yaitu Imam Abu Hasan Al-asyâari dan juga imam Abu Mansur Al-Maturidi. Saat kondisi perpolitikan Abbasiyah tengah tergoncang dan akidah pada masa itu semakin kabur dengan paham-paham baru yang muncul, lahirlah Imam Abu Hasan Al-Asyâari. Kelahirannya saat Abbasiyah berada pada kepemimpinan Al- Muâtamid ala Allah.[7] Bersama dengan imam Al-Maturidi, Imam al-Asyâari berjuangan keras mempertahankan sunnah dari lawan-lawannya. Mereka bagaikan saudara kembar. Dari gerakan-gerakan al-Maturidi muncul karya-karya yang memperkuat madzhabnya, seperti kitab Al-Aqaid an-Nasafiyah karya Najmudin an-Nasafi, sebagaimana muncul dari al-Asyâari beberapa karya yang memperkokoh madzhabnya seperti as-Sanusiyah dan al-Jauharoh.[8] Akidah yang dibawakan oleh imam Asyâari menyebar luas pada zaman Wazir Nizhamul Muluk pada dinasti bani Saljuk dan seolah menjadi aqidah resmi negara. Paham Asâariyah semakin berkembang lagi pada masa keemasan Madrasah An-Nizhamiyah yang di Baghdad adalah Universitas terbesar di dunia. Didukung oleh para petinggi negeri itu seperti al-Mahdi bin tumirat dan Nurudin Mahmud Zanki serta sultan Salahudin al-Ayyubi. Juga didukung oleh sejumlah besar Ulama, terutama para imam madzhab. Sehingga wajar sekali kalau akidah asyâariyah adalah akidah terbesar di dunia.[9] Begitupun dengan al-Maturidi, aliran ini telah meninggalkan pengaruh dalam dunia islam. Hal ini bisa dipahami karena manhajnya yang memiliki ciri mengambil sikap tengah antara akal dan dalil naqli, pandangannya yang bersifat universal dalam menghubungkan masalah yang siifatnya juzâI ke sesuatu yang kulliy.[10] Selanjutnya para pengikut keduanya lah yang melanjutkan dan menyebarkan aliran-aliran beliau dengan membukukan kitab-kitab maupun yang lainnya. Kesimpulan Ahlu Sunnah adalah orang-orang yang mengikuti sunnah dan berpegang teguh dengannya dalam seluruh perkara yang Rasulullah berada di atasnya dan juga para sahabatnya, sesuai yang disampaikan di dalam hadits nabi Muhammad SAW. Madzab ini berkembang pesat pada masa kekholifahan dinasti abbasiyah. Daftar Pustaka Abbas, Sirajuddin. 1983. Iâtiqad Ahlusunnah Wal-Jamaâah. Jakarta Pustaka Tarbiyah Hanafi, A. 2003. Pengantar Teologi Islam, Cet I, Jakarta Pustaka Al-Husna Baru Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien. 2008. Aliran-aliran Teologi Islam. Jawa Timur Purna Siswa Aliyah Wikipedia Indonesia [1]Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien, Aliran-aliran Teologi Islam, Jawa Timur Purna Siswa Aliyah, 2008 Hlm. 174 [3] Sirajuddin Abbas, Iâtiqad Ahlusunnah Wal-Jamaâah, Jakarta Pustaka Tarbiyah, 1983 Hlm. 16 [5] Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien, Aliran-aliran Teologi Islam âŠ. Hlm. 170 [9] A. Hanafi, Pengantar Teologi Islam, Cet I, Jakarta Pustaka Al-Husna Baru, 2003 Hlm. 167
Uploaded byDjoko Suprabowo 0% found this document useful 0 votes577 views6 pagesDescriptionSejarah lengkap AswajaCopyright© © All Rights ReservedAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?Is this content inappropriate?Report this Document0% found this document useful 0 votes577 views6 pagesSejarah Lengkap Ahlussunnah Wal JamaahUploaded byDjoko Suprabowo DescriptionSejarah lengkap AswajaFull descriptionJump to Page You are on page 1of 6Search inside document Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.
sejarah ahlussunnah wal jamaah pdf